Tim AJAR

Patrick Burgess, President

Patrick adalah seorang advokat berkebangsaan Australia, mantan Anggota Senior dari Pengadilan Pengungsi Australia. Dia pernah menjadi Direktur Hak Asasi Manusia untuk dua misi PBB di Timor-Leste, Kepala Penasihat Hukum Komisi untuk Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi (CAVR) di Timor-Leste, Direktur Program Asia di International Centre for Transitional Justice (ICTJ), Penasihat Senior bidang Penegakan Hukum untuk program DFID dan AusAID di Myanmar dan Indonesia. Dia mengkoordinir program darurat untuk kemanusiaan di Rwanda pasca-genosida, Republik Demokrasi Kongo, Uganda, Yemen, dan pasca-tsunami Aceh, Indonesia. Dia juga mengelola tim dan program keadilan transisi di Afganistan, Sri Lanka, Bangladesh, Nepal, Myanmar, Thailand, Indonesia, Kamboja, dan Kepulauan Solomon.

Galuh Wandita, Direktur, Program Indonesia dan Regional

Galuh adalah mantan staf senior di International Centre for Transitional Justice, bertanggung jawab untuk program di Indonesia dan Timor-Leste (2006-2012). Dia menjabat Wakil Direktur Komisi untuk Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi (CAVR) di Timor-Leste. Dia adalah salah satu koordinator gugus kerja di Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran (KKPK) di Indonesia, anggota ‘Majelis Warga’ untuk mengungkap kebenaran atas kejahatan masa lalu di Indonesia. Dia meraih gelar B.A dalam Antropologi dari Swarthmore College tahun 1988, dan gelar Master dalam Hukum Hak Asasi Internasional dari Universitas Oxford tahun 2007.

Jose Luis de Oliveira, Direktur, Timor-Leste

Sebagai tokoh senior masyarakat sipil, Jose Luis, adalah pendiri dua organisasi hak asasi manusia di Timor-Leste yaitu, Asosiasi HAK (1996) dan Fokupers (1997). Kedua organisasi itu dibentuk saat Timor Timur tengah bergejolak menjelang reformasi di Indonesia 1998 dan referendum di Timor Timur tahun 1999. Dia juga mengkoordinir aksi kemanusiaan berupa bantuan darurat kepada para pengungsi di tahun 1999. Jose Luis memegang posisi kunci selama transisi menjelang kemerdekaan, termasuk menjadi anggota Kelompok Kerja untuk Pendidikan Pemilih dan Komite untuk Pendidikan Kewarganegaraan. Dia ditunjuk sebagai anggota Komisi Pemilihan Nasional (2004-2005) yang mengawasi pemilihan kepala desa, dan anggota Badan Penyiaran Nasional (2008-2010). Tahun 2011, Jose Luis dipilih sebagai koordinator Asosiasi Nasional untuk Korban Konflik. Dia juga bekerja sebagai penasihat untuk program International Center for Transitional Justice di Timor-Leste.

Atikah Nuraini, Direktur, AJAR Learning Center

Seorang pendidik dan praktisi hak asasi manusia dengan pengalaman lebih dari 13 tahun bekerja di Komisi Nasional untuk Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Atikah memiliki ketrampilan dalam merancang dan mengevaluasi pelatihan menggunakan pendekatan partisipatoris. Dia telah memfasilitasi berbagai pelatihan hak asasi manusia untuk para pengacara, aktivis NGO, aparat pemerintahan, guru sekolah, komunitas akar rumput dan pemimpin agama di berbagai Negara. Keahlian Atikah termasuk mendokumentasikan pelanggaran HAM dengan menggunakan berbagai aplikasi data base. Dia lulus dari Program Paska Sarjana Ilmu Kepustakaan, Arsip dan Informasi di Universitas Indonesia (1999), dan memiliki Diploma dalam Studi Informasi di Universitas McGill, Kanada (2000), dan Sarjana dalam Studi Sejarah dari Universitas Indonesia (1995) dengan kekhususan dalam Sejarah Sosial Ekonomi.

Dodi Yuniar, Komunikasi dan Media

Dodi Yuniar adalah spesialis komunikasi dan pendidik komunitas. Dia telah melakukan riset aksi partisipatoris di komunitas di Bandung dan Yogyakarta. Dia adalah ketua unit pelatihan di Yayasan Pendidikan Rakyat Indonesia (YPRI) dan bekerja sebagai Kepala Editor di Penerbit Insistpress (2005-2010). Tahun 2010-2012, Dodi menjadi spesialis informasi publik untuk International Center of Transitional Justice di Indonesia, dan mengelola produksi publikasi, film pendek, dan versi ramah anak dari laporan CAVR (Chega!).

Tim Indonesia

Citra Dwi Ayu, Yenny Satriyadini, Nia Kuniarsih, Atikah Nuraini, Galuh Wandita, Dodi Yuniar

Dewan AJAR di Indonesia:

  • Ifdhal Kasim, pengacara, mantan ketua Komnas HAM
  • Isna Marifa Sjadzali, pegiat lingkungan dengan pengalaman lebih dari 30 tahun dalam program lingkungan berkelanjutan
  • John Campbell-Nelson, pendidik yang bekerja dengan komunitas di Indonesia wilayah timur selama lebih dari 35 tahun
  • Leo Kleden, pendidik, mantan Rektor Sekolah Filsafat Katolik Ledalero di Flores, Nusa Tenggara Timur
  • Zandra Mambrasar, pengacara hak asasi manusia, hak masyarakat adat dan hak –hak perempuan
  • Putu Oka Sukanta, novelis, penyair, pengamat sosial dan aktivis
  • Tati Krisnawati, pakar gender, mantan komisioner Komnas Perempuan
  • I Ketut Gede Artika, tokoh masyarakat
  • Prihatin Asmidy, manajer bisnis

Copyright ® 2014 Asia Justice and Rights (AJAR). Developed by TemanWeb. All rights reserved.